Wamenkomdigi Tekankan Peran Jurnalisme Jaga Keaslian Informasi di Era AI
Jakarta – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menegaskan bahwa jurnalisme memiliki peran strategis dalam menjaga keaslian dan kepercayaan informasi publik di tengah maraknya konten sintetis berbasis kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin sulit dibedakan dari peristiwa nyata.
Nezar Patria menyampaikan bahwa perkembangan teknologi AI telah mengubah lanskap industri media sekaligus pola konsumsi informasi masyarakat. Foto, video, dan teks hasil rekayasa kini beredar luas di berbagai platform digital dan media sosial, sehingga meningkatkan risiko publik terkecoh, termasuk kelompok masyarakat yang telah melek digital.
“Konten sintetis hari ini sangat mirip dengan aslinya. Bahkan orang yang terlatih pun bisa keliru. Di situ publik membutuhkan jurnalisme yang bekerja dengan disiplin verifikasi,” ujar Wamenkomdigi dalam keterangannya terkait Forum Kolaborasi Dewan Pers dan Google News Initiative di Serang, Banten, pada Minggu (8/2/2026).
Menurutnya, tantangan utama di era digital saat ini bukan lagi kelangkaan informasi, melainkan krisis kepercayaan. Algoritma dan sistem personalisasi informasi dinilai membuat publik menerima realitas yang terfragmentasi, sesuai preferensi masing-masing, bukan gambaran utuh suatu peristiwa. “Informasi hari ini melimpah. Yang justru langka adalah kepercayaan. Dan kepercayaan itu hanya bisa dijaga oleh jurnalisme yang berintegritas,” tegas Wamenkomdigi.
Nezar menekankan bahwa kecerdasan artifisial tidak memiliki insting verifikasi karena teknologi hanya bekerja berdasarkan perintah. Tanpa kendali manusia, AI tidak mampu memastikan apakah sebuah informasi bersifat otentik atau sekadar simulasi. “AI tidak akan melakukan verifikasi jika tidak diminta. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme profesional dengan konten otomatis,” kata pria yang merintis karier sebagai jurnalis di berbagai media massa nasional.
Wamenkomdigi menegaskan bahwa pemanfaatan AI di industri media harus ditempatkan sebagai alat bantu produksi, bukan sebagai pengambil keputusan editorial. Menurutnya, manusia tetap harus menjadi pusat dalam menentukan kebenaran, konteks, serta dampak informasi bagi masyarakat. “Jurnalisme adalah layanan publik. Di tengah dominasi algoritma dan AI, keberpihakan pada kebenaran dan hak warga tidak boleh hilang,” ujarnya.
Dalam konteks kebijakan, Nezar Patria menyatakan pemerintah mendukung pembangunan ekosistem media yang sehat dan berkelanjutan.
Ekosistem tersebut melibatkan jurnalis, industri media, serta platform digital agar jurnalisme berkualitas dapat bertahan secara ekonomi sekaligus tetap melayani kepentingan publik.
Ia juga menyinggung praktik media global seperti The New York Times yang mampu bertahan di tengah disrupsi teknologi dengan menjaga kualitas dan kredibilitas jurnalistik.
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa publik bersedia membayar bukan sekadar untuk berita, tetapi untuk kepercayaan.
