UIN Walisongo Bangun Planetarium untuk Pemantauan Hilal Jelang Sidang Isbat
Semarang — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar meninjau kesiapan Planetarium dan Observatorium KH. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah, sebagai salah satu titik pemantauan hilal menjelang pelaksanaan sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah yang dijadwalkan pada 17 Februari 2026.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana pengamatan hilal agar proses penetapan awal Ramadan dapat berlangsung akurat, transparan, dan akuntabel. Dalam kesempatan itu, Menag menyaksikan langsung simulasi pemantauan hilal yang dapat dilakukan melalui fasilitas planetarium.
Menurut Menag, keberadaan planetarium dan observatorium menjadi penguatan penting bagi kerja-kerja rukyat yang berbasis pendekatan ilmiah dan data astronomi. “Planetarium ini bukan hanya berfungsi membantu pemantauan hilal, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang sangat baik bagi mahasiswa, khususnya jurusan Ilmu Falak, untuk mengembangkan kompetensi keilmuannya,” ujar Menag, Jumat (6/2/2026).
Menag Nasaruddin Umar menilai penguatan infrastruktur astronomi di lingkungan perguruan tinggi keagamaan merupakan langkah strategis untuk memperkuat integrasi antara ilmu pengetahuan dan praktik keagamaan, khususnya dalam penentuan awal bulan hijriah. “Kita ingin proses penetapan awal bulan hijriah semakin kuat secara metodologis, berbasis data dan sains, serta melibatkan pusat-pusat kajian keilmuan di kampus,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi dan literasi publik dalam isu-isu falakiyah. Melalui fasilitas planetarium, masyarakat dan mahasiswa diharapkan dapat memahami proses pemantauan hilal secara lebih komprehensif. “Ini bagian dari literasi keagamaan berbasis pengetahuan, agar masyarakat memahami bahwa penetapan awal Ramadan dilakukan melalui proses ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan,” tambah Menag.
Planetarium dan Observatorium KH. Zubair Umar Al-Jailani selama ini berfungsi sebagai pusat pembelajaran dan riset astronomi Islam, sekaligus laboratorium praktik bagi mahasiswa Ilmu Falak dalam mengembangkan kemampuan observasi, analisis data, dan pemodelan pergerakan benda langit.
Kementerian Agama berharap penguatan fasilitas astronomi di kampus keagamaan dapat terus dikembangkan sebagai simpul kolaborasi antara pengembangan keilmuan dan praktik keagamaan, serta mendukung pelaksanaan sidang isbat yang semakin terbuka dan kredibel.
