Pidato Keras Presiden di Swiss: Tak Ada Kompromi bagi 666 Korporasi Nakal, Misi Saya Buat Wong Cilik Tersenyum
0 menit baca
DAVOS – Panggung World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026), menjadi saksi ketegasan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Tanpa tedeng aling-aling, Presiden menelanjangi praktik ekonomi rakus di tanah air dan memamerkan "taring" penegakan hukum pemerintahannya di hadapan para pemimpin dunia.
Dalam pidato yang berapi-api, Prabowo mengungkapkan fakta mencengangkan: negara telah mengambil alih jutaan hektare lahan yang selama ini dikuasai secara ilegal oleh segelintir elite.
“Kami tidak punya pilihan. Saya telah disumpah untuk menegakkan konstitusi. Hingga kini, kami berhasil menyita 4 juta hektare perkebunan dan tambang ilegal, ditambah pencabutan izin 1,01 juta hektare lahan dari 28 perusahaan yang melanggar hukum,” tegas Prabowo.
Perang Melawan "Greedomics"
Presiden memperkenalkan istilah baru untuk menggambarkan praktik bisnis kotor yang merusak lingkungan dan merugikan negara: "Greedomics" atau ekonomi keserakahan.
Ia menyoroti bagaimana korporasi besar mencaplok kawasan hutan lindung dan memanipulasi tata kelola bahan bakar minyak. Data intelijen kepresidenan bahkan mencatat masih ada sekitar 666 korporasi yang terindikasi melakukan pelanggaran hukum di berbagai sektor.
Langkah konkret pun telah diambil. Selain penyitaan lahan, pemerintah telah menutup paksa 1.000 tambang ilegal, dan membidik 1.000 lokasi lainnya yang masih beroperasi secara sembunyi-sembunyi.
Tantangan Terbuka untuk "Para Pemilik Uang"
Momen paling dramatis dalam pidato tersebut terjadi saat Prabowo menantang para oligarki yang merasa kebal hukum karena kekuatan uang mereka.
"Saya menerima laporan bahwa mereka merasa bisa membeli semua pejabat. Saya tantang mereka mencoba membeli pejabat di pemerintahan saya. Mereka akan mendapatkan kejutan besar," ancam Prabowo dengan nada dingin namun tegas.
Pernyataan ini seolah menjadi sinyal perang terbuka melawan mafia perizinan yang selama ini bercokol di birokrasi.
Misi Suci: Membuat Orang Miskin Tersenyum
Di balik garangnya penegakan hukum, Prabowo menutup pidatonya dengan pesan kemanusiaan yang menyentuh. Ia menegaskan bahwa seluruh upaya keras memberantas korupsi dan menyita aset negara bermuara pada satu tujuan: menghapus kemiskinan ekstrem.
Ia mengklaim angka kemiskinan ekstrem kini berada di titik terendah dalam sejarah, dan menargetkan nol persen dalam empat tahun ke depan.
Mengutip nasihat seorang tetua, Presiden menyampaikan filosofi kepemimpinannya: "Tugas seorang pemimpin adalah membuat orang miskin dan lemah bisa tersenyum dan tertawa. Jika mereka bisa tersenyum, artinya mereka punya harapan. Itulah misi hidup saya," pungkasnya.
Pidato ini menegaskan dua wajah pemerintahan saat ini: tangan besi bagi para koruptor dan perusak lingkungan, namun tangan lembut bagi rakyat kecil yang membutuhkan perlindungan negara.
