BREAKING NEWS

Kemendikdasmen Perkuat Pendidikan 3T Lewat Revitalisasi di Nunukan

Jakarta — Pemerintah terus menegaskan keberpihakan pada pemerataan layanan pendidikan hingga wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meresmikan delapan sekolah hasil revitalisasi di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, kawasan perbatasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia.


Peresmian dilakukan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, Minggu (18/1/2026). Program ini merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan amanat konstitusi, mencerdaskan kehidupan bangsa, dirasakan secara merata, termasuk oleh anak-anak di wilayah tapal batas.  “Atensi terhadap pendidikan tidak boleh terpusat di kota besar. Sekolah di perbatasan harus memiliki sarana yang aman, nyaman, dan mendukung pembelajaran yang efektif,” ujar Wamen Atip.


Menurutnya, ketersediaan infrastruktur pendidikan yang layak merupakan prasyarat penting bagi tumbuhnya kualitas sumber daya manusia di daerah 3T.


Wamen Atip juga mengingatkan pentingnya perawatan fasilitas yang telah dibangun. “Menjaga sarana seperti ruang kelas dan toilet sama pentingnya dengan membangunnya. Keberlanjutan manfaat sangat bergantung pada kepedulian seluruh warga sekolah,” pesannya.


Wakil Bupati Nunukan, Hermanus, menilai peresmian sekolah di Sebatik sebagai pesan kuat kehadiran negara di wilayah perbatasan. Menurutnya, anak-anak perbatasan memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak dan bermutu.  “Atas nama pemerintah daerah, kami menyampaikan terima kasih kepada Menteri dan Wakil Menteri Dikdasmen atas perhatian nyata kepada Kabupaten Nunukan. Revitalisasi ini menjadi modal penting bagi masa depan generasi perbatasan,” ujarnya.


Dampak revitalisasi dirasakan langsung oleh satuan pendidikan. Kepala SMK Negeri 1 Nunukan, Jathu Roswita, mengungkapkan bahwa sebelum revitalisasi, kondisi bangunan sekolah menimbulkan kekhawatiran, terutama saat hujan.  “Atap dan plafon sudah lapuk, sering bocor, bahkan kami harus menggunakan terpal. Dengan 752 siswa, jumlah toilet juga sangat terbatas,” jelasnya.


Setelah revitalisasi, kondisi tersebut berubah signifikan. “Sekarang sekolah lebih aman dan nyaman. Siswa lebih termotivasi datang ke sekolah dan mengikuti pembelajaran karena lingkungannya sudah layak dan menarik,” kata Roswita.


Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto, Mendikdasmen Abdul Mu’ti, serta jajaran Kemendikdasmen atas dukungan yang diberikan.


Manfaat serupa dirasakan oleh SMAS Katolik St. Gabriel Nunukan. Guru setempat, Suryani, menyebut revitalisasi membantu pemenuhan fasilitas dasar seperti toilet dan perpustakaan yang sebelumnya belum tersedia. “Anak-anak kini memiliki ruang baca yang layak. Ini sangat membantu proses belajar,” ujarnya.


Dari kalangan siswa, Agus Gustiawan, siswa kelas XII SMKN 1 Nunukan, mengaku revitalisasi membuat proses belajar jauh lebih lancar. “Sekarang tidak takut lagi bocor atau runtuh, sekolah tidak becek, toiletnya juga sudah bagus. Kami sebagai siswa di perbatasan sangat terbantu,” katanya.


Kemendikdasmen menegaskan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan akan terus dilanjutkan secara bertahap dan berkelanjutan, agar sekolah-sekolah di wilayah 3T memiliki sarana prasarana yang layak, aman, dan mendukung pembelajaran bermutu, sekaligus memperkuat kehadiran negara hingga ke garis terdepan Indonesia.

 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image